MODEL PENGEMBANGAN DESTINATION BUBBLE PASCA
KRISIS KESEHATAN GLOBAL UNTUK KEBERLANJUTAN
PARIWISATA DI PROVINSI KEPULAUAN RIAU
Pandemi COVID-19 berdampak signifikan terhadap pariwisata di Provinsi
Kepulauan Riau (Kepri), dan menyebabkan perubahan perilaku wisatawan.
Sebagai provinsi yang menjadi pilot project kerja sama Travel Bubble antara
Indonesia dan Singapura pada 2022, Kepri juga menghadapi berbagai tantangan
dalam kebijakan dan prosedur. Penelitian ini menjawab tantangan tersebut dengan
mengkaji 20 pertanyaan penelitian untuk menciptakan model pengembangan
destinasi wisata terpadu berkonsep Destination Bubble dengan mengadopsi teori
Travel Bubble. Pengujian dilakukan terhadap Destination Attributes dan Travel
Risk pada konsekuensi relasional dari konstruksi Tourist Engagement, Attitude,
dan Behavioral Intentions toward Destination Bubble. Rerangka kerja
pengembangan disusun berdasarkan teori Porter’s Diamond, Kebijakan, dan
Pengembangan Wilayah. Penelitian ini menggunakan mixed methods embedded
design dan sequential explanatory, dengan pendekatan kuantitatif sebagai metode
primer. Sampel diambil berdasarkan teknik purposive sampling, yaitu Wisman
yang pernah berkunjung saat pandemi dan pasca pandemi, berjumlah 350
responden kuantitatif yang dianalisis menggunakan PLS-SEM dan IFAS EFAS.
Kemudian, 15 informan kualitatif yang dipilih berdasarkan kompetensi yang
relevan dan dianalisis menggunakan NVivo. Penelitian ini menghasilkan 13
hipotesis diterima dan tiga ditolak pada pengujian kuantitatif yang ditetapkan
menjadi model Bubble Orient, yaitu pengembangan Behavioral Intentions
towards Destination Bubble. Kemudian, analisis IFAS EFAS menghasilkan model
Competitive DestMap, yaitu Keunggulan Bersaing jangka pendek, menengah, dan
panjang, sedangkan analisis kualitatif menghasilkan model Sustainable
BubbleDest, yaitu pengembangan Destination Bubble berkelanjutan. Ketiga
model pengembangan ini dibaur menjadi model utama yang diberi nama Rianty’s
BubbleDest Conceptual Model, yang mengitegrasikan Tourist Orientation,
Competitive Advantage, Government Policy, dan Sustainable Tourism untuk
menciptakan sebuah Destination Bubble. Penggabungan seluruh metodologi dan
desain ini menghasilkan model metodologi baru bernama Sequential Embedded
Design. Konsep ini dapat berkontribusi dalam pengembangan destinasi pariwisata
terpadu di Kepri, yang memiliki mitigasi dan ketangguhan terhadap berbagai
risiko pariwisata, memahami preferensi wisatawan, dan memberikan rekomendasi
kebijakan pariwisata yang kompetitif dan berkelanjutan.