Keuangan berbasis perilaku (Behavioral finance) merupakan pendekatan baru dalam studi keuangan yang berusaha mengombinasikan ilmu psikologi dan keuangan untuk menjelaskan mengapa seseorang sering kali dalam membuat keputusan keuangan bertindak tidak rasional. Keuangan berbasis perilaku melibatkan pada tiga disiplin ilmu, yakni psikologi, sosiologi dan keuangan (Ricciardi & Simon, 2000). Sewell (2007) mendefinisikan keuangan berbasis perilaku sebagai sebuah studi yang mempelajari pengaruh psikologi pada perilaku praktisi keuangan berikut dampaknya di dalam pasar, sehingga membantu untuk menjelaskan mengapa dan bagaimana pasar menjadi tidak efisien. Perbedaan keuangan tradisional dengan keuangan berbasis perilaku dapat dibagi dalam empat dimensi yaitu perilaku investor, kondisi pasar, investor dalam membentuk portofolio, dan penilaian asset. Barberis & Thaler (2003) menjelaskan elemen yang mendasari kemunculan keuangan berbasis perilaku, diantaranya adanya keterbatasan dari aksi arbitrase (limits to arbitrage), dan psikologi kognitif (cognitive psychology) atau cara investor memproses informasi yang begitu banyak untuk kepentingan pengambilan keputusan transaksi. Pompian (2012) membagi keuangan berbasis perilaku ke dalam dua level analisis, yaitu level makro atau pasar (behavioral finance macro) dan level mikro atau individual investor (behavioral finance micro). Dalam pengambilan keputusan keuangan investor melibatkan factor emosi dan psikologis, sehingga menimbulkan bias. Bias dalam keuangan berbasis perilaku dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu bias kognitif dan bias emosi (Pompian, 2012). Pada perkembangannya muncul jenis bias lain yang berasal dari dari hasil interaksi social. Dengan demikian, bias dalam keuangan berbasis perilaku berdasarkan sumber bias secara garis besar dapat diklasifikasikan menjadi tiga, meliputi bias kognitif, bias emosi, dan bias interaksi social.